Home » » Farida: Semangat Berlipat Ganda Setelah Bapak Tiada

Farida: Semangat Berlipat Ganda Setelah Bapak Tiada


Farida: Semangat Berlipat Ganda Setelah Bapak Tiada

Farida Rahmawati. Gadis asli Pacitan. Manis. Orangnya ceria dan pandai bergaul dengan siapa saja. Dia itu sahabatku waktu kuliah di UIN Sunan Kalijaga. Selama mengenalnya, belum pernah sekalipun aku melihat dia marah-marah. Dalam hal apapun. Warbyasak!
Farida adalah anak yang dekat dengan orang tua, terutama ibunya. Di Yogyakarta (tempat kami kuliah), jika lagi down semangatnya, dia telepon ibu atau bapaknya. Setiap semangat, nasehat, doa, selalu mengalir dari kedua orang tua tercinta. So pasti, setelahnya Farida mendapatkan ‘dirinya’ kembali, bahkan lebih baik dari sebelumnya.

Betewe, tau nggak sih? Aku tuh pernah baca SMS dari bapaknya Farida. Beliau panggil Farida dengan sebutan apa, coba? ‘Say’! Aaaakkk..., He’s a sweet daddy, right?

Farida: Semangat Berlipat Ganda Setelah Bapak Tiada
Farida Rahmawati
Sumber foto : Dokumentasi pribadi dari yang bersangkutan

 Tahun 2011, tepatnya tanggal 21 Desember, ‘tiba-tiba’ Farida mendapat kabar bahwa bapaknya berpulang. Ya Allah..., sedih banget pastinya. Kalau kamu pernah merasakan kehilangan, kamu pasti bisa merasakannya juga. Atau kalau belum, minimal kamu bisa membayangkannya.
Yang pasti, setelah hari itu, adalah hari-hari yang berat untuk dilewati. Doa untuk bapak, itu sudah pasti. Tapi Farida nggak berlarut-larut begitu saja. Aku lihat, semangat Farida berlipat-lipat. Mungkin kamu akan mengatakan kalau dia demikian karena keadaan. Namun yang jelas, kulihat bahwa Farida semakin kuat dan bertanggung jawab atas hidupnya. Dia juga semakin giat belajar.
Tentang finansial, (mau tidak mau) tentu salah satu yang menjadi persoalan. Apalagi ketika itu memang kuliah baru setengah jalan. Ah, setengah jalan pun belum ada, karena saat itu memang masih akhir semester 2. Dia sempat galau di antara pilihan berhenti kuliah ataukah tetap lanjut. Tetapi berkat dukungan keluarga, akhirnya tetap melanjutkan kuliah, dengan konsekuensi dirinya harus mandiri.

Apa yang dia lakukan? Dia melamar kerja kesana-kemari. Akhirnya mendapatkan pekerjaan pertamanya sebagai pelayan di restoran Pempek Ulu Bundar depan Ambarukmo Plaza. Ketika libur kuliah dia ambil full time, kalau ada jadwal kuliah ambil jam casual khusus Sabtu-Minggu. Pencuci piring merupakan tugas tambahannya. Sama sekali dia nggak gengsi. Juga, sama sekali dia nggak malu ketika kebetulan salah satu dosen kami mampir ke restoran itu, dan berjumpa dengannya.
Setelah pekerjaan pertama itu, beberapa pekerjaan yang pernah dia jalani adalah:
1.      Pengajar di PAUD Aisyiah (sekitar kostnya)
2.      Penjaga Rental Komik di daerah Rejowinangun
3.      Tahun 2013 gabung sebagai anggota Part Time Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga
4.      Pernah bekerja di Perpustakaan ICBC Yogyakarta

“Alhamdulillah, selalu diberi jalan rezeki sama Allah,” ucapnya penuh syukur.

Perjalanan dan perjuangan yang terasa panjang, akhirnya di bulan Agustus 2014 kami bisa wisuda bareng. Cum laude, alhamdulillah. Sekarang, dia bekerja di SMKN 1 Pacitan sebagai pustakawan.

“Lulus dan Balik Desa Mbangun Desa. Aslinya pingin kerja di luar Pacitan. Tapi ya alhamdulillah, ngikutin alur-Nya.”

Dia tetap supel dan humble, seperti yang kukenal selama ini. Prinsipnya, “Manfaatkan waktu seoptimal mungkin selagi muda dan keberuntungan akan selalu mengikuti.”



0 comments :

Post a Comment