Widiya : Kesempatan
Belajar Bukan Hanya di Bangku Sekolah
Widiyawati Ningrum. Mbak
Wid (begitu sapaannya), anak perempuan satu-satunya dari empat bersaudara
(kakak pertama sudah meninggal ketika masih bayi). Dua saudaranya yang lain
mendapatkan restu orangtua untuk melanjutkan pendidikan hingga jenjang SMK.
Sementara dia, karena perempuan, dicukupkan hingga SMP saja.
Entah, saat itu kedua
orangtuanya masih berpikir bahwa perempuan tak perlu berpendidikan tinggi
karena ujung-ujungnya di rumah juga. Tapi di kemudian hari (butuh waktu cukup
lama), sepertinya mereka menyesal dengan pola pikir seperti itu.
![]() |
| Widiya beserta suami dan anak Sumber foto : Dokumentasi pribadi dari yang bersangkutan |
Lulus SMP, Mbak Wid
merantau ke beberapa kota seperti Madiun, Jakarta, dan Yogyakarta. Pekerjaannya
ya macam-macam. Pernah jadi penjaga toko kelontong, penjaga outlet toko
kue, karyawan stik ketela, dan lain-lain. Semua dia lakukan demi masa depan
yang lebih layak. Hingga kemudian, dia menemukan jodohnya di Yogyakarta.
Ya, dia menikah dengan
seorang laki-laki asal Sleman dan hidup di sana. Sekarang anaknya duduk di
bangku kelas TK, dan alhamdulillah termasuk murid yang berprestasi.
Hingga beberapa tahun setelah menikah, kadang dia masih belum rela bahwa
dirinya hanya lulusan SMP, sementara suaminya adalah lulusan S1 Ekonomi. Tapi
lama-lama dia pun bisa ikhlas, mengingat orangtuanya memang bukan orang yang
betul-betul mampu.
“Ah, mungkin ketika menyekolahkan Mas dan Adik,
kebetulan pas ada rezeki.”
Mbak Wid tipe istri
yang ikhlas menerima segala keadaan suaminya, baik kelebihan dan kekurangannya.
Begitupun sebaliknya. Kulihat Mas Heru (suaminya) itu juga senantiasa bersyukur
memiliki istri seorang Mbak Wid.
Mbak
Wid itu cantik, ceria, kreatif, juga mudah bergaul. Kalo udah berbaur dengan
banyak orang, pasti juga nggak ada yang menyangka bahwa dia ‘hanya’ lulusan
SMP. Melihat caranya berpikir, berbicara, dan berpenampilan, nggak ada bedanya
kok dengan anak kuliahan. Cara berpikirnya mungkin banyak dipengaruhi pola
pikir orang Jogja (lingkungannya) yang memang tingkat literatenya
lumayan tinggi. Caranya berbicara dari dulu memang santai, apa adanya, dan
mudah diterima. Tentang caranya berpenampilan, ya dia itu memang fashionable.
![]() |
| Emak matic yang cantik |
Kegiatan
sekarang adalah menggeluti dunia jajanan pasar, terutama pastel dan donat. Dia
pertama kali mendapatkan resep pastel dari seorang Bu Lik (ceritanya beliau sudah
kewalahan dengan banyaknya pesanan aneka jajan yang lain, kemudian menyerahkan urusan
pastel pada Mbak Wid). Dari situ dia banyak belajar tentang dunia dapur. Alhamdulillah
usahanya ini lancar, dan membuatnya semakin percaya diri dan mandiri. Note
ya, ini tanpa mengesampingkan peran suami sebagai tulang punggung keluarga.
![]() |
| Pastel buatan Mbak Widiya |
Dulu,
masa-masa awal pernikahan, mungkin banyak orang yang meragukannya. Dari segi
Mas Heru menikahi gadis desa, dari sisi pendidikan juga kesenjangannya lumayan,
secara ekonomi juga jauh lebih mapan keluarga pihak laki-laki. Namun sekarang
aku yakin, nggak ada yang berani meremehkannya. Dia itu wanita yang kuat dan
semangat.
Mas
Heru bahkan sangat bersyukur memiliki dirinya. Ya, dia adalah istri yang
sempurna buat Mas Heru. (Kalo ada yang berkomentar “Nggak ada istri yang
sempurna,” aku tegaskan ya. Sempurna buat seseorang bukan berarti harus
sempurna untuk yang lain. Jadi, sempurna buat Mas Heru ya, bukan untuk yang
lain).
Pendidikan nggak cuma bisa didapat dari bangku sekolah.
Ilmu bisa kita dapatkan dari mana saja. Tinggal kitanya, mau belajar apa
enggak.



0 comments :
Post a Comment