Buk Titik : Jualan Sepi Itupun Juga
Rezeki
Dia ibuku. Wanita super aktif yang
banyak kegiatan meski ‘hanya’ di rumah. Anak ke 5 dari 6 bersaudara (yang masih
hidup). Segala urusan domestik dikerjakan sendiri di rumah, hampir tanpa
bantuan bapak. Mungkin bagi kalian yang concern dengan persoalan feminisme,
kesetaraan gender, hal ini seperti tidak adil. Tapi bagi ibuku, inilah salah
satu bentuk khidmahnya pada suami.
Selain berperan sebagai ibu rumah
tangga, ibu juga berjualan di rumah. Toko kelontong, menyediakan keperluan
sehari-hari. Setiap pagi ibu ke pasar, menjual sayuran hasil kebun yang ditanam
bersama bapak, kadang juga sayuran milik para tetangga yang dititipkan
kepadanya. Pulangnya, ibu membawa barang-barang kulakan dari pasar untuk dijual
di rumah.
![]() |
| Buk Titik dan Bapak Suparman, moment lebaran 2018 |
Namanya jualan ya, kadang ramai kadang
sepi. Ibu bukan tipe penjual yang bertarget ‘mutlak’ pada omzet. Kalau ramai ya
disyukuri, kalau sepi ya disyukuri juga.
Kalau sepi ya alhamdulillah juga, bisa lebih santai. Waktu
luang kan juga bagian dari rezeki.
Iya juga ya, mungkin hal ini yang kadang
kurang disadari oleh para penjual. Kadang begitu fokus dengan belum ada/tidaknya
pembeli, hingga melupakan nikmat waktu lapang yang Allah berikan.
Btw, di bagian ini, aku
tiba-tiba ingat dengan ucapan dari Maria, sahabatku.
Kangen dapat orderan? Siapa sih yang menggerakkan hati customer
untuk order ke kita? Nah, deketin dulu Dzat yang menggerakkan hati itu.
Betul? Iya, banget. Itulah bagian dari
rezeki juga. Allah kasih waktu lapang untuk berdzikir, lebih mendekatkan diri padaNya. Bisa untuk lebih
menikmati waktu bersama keluarga, dan untuk yang lain, dan untuk yang lain
lagi.

0 comments :
Post a Comment