Pak Zaki : Senantiasa Sabar Meskipun Aku
Sebaliknya
Suatu malam, aku berbincang dengan
suami. Pillow talk ini, meskipun salah satu aktifitas favoritku, namun
moment yang termasuk langka. Sebab apa? Seringnya, aku ketiduran saat ngeloni
anakku (jadi tidur lebih awal sekitar jam 8 malam), sementara suamiku masih
melakukan aktifitas lain. Kemudian saat aku nglilir (jamnya nggak
tentu), suamiku yang udah tidur. Atau, kadang suamiku yang udah tidur duluan,
sementara aku masih melakukan hal yang lain. Atau, kami sama-sama kelelahan, jadi
tidur masing-masing tanpa pembicaraan apapun sebelum terlelap.
Jadi begitulah, ketika ada kesempatan pillow
talk, kami membicarakan hal apapun, ya, hitung-hitung memaksimalkan quality
time.
Saat itu, kami membahas lagi apa yang terjadi
di pagi sebelumnya. Ceritanya karena sesuatu hal, aku marah-marah. Aku tanya
perasaan dia.
“Sejujurnya, maaf ya (sambil memegang tangan kananku dengan
kedua tangannya), ketika Sampean marah-marah, ‘hatiku jatuh’. Maksudnya, ketika
melakukan sesuatu, aku jadi nggak semangat. Ke kandang nggak semangat, ke sawah
nggak semangat.”
Aku terdiam. Baru kali ini dia
mengungkapkan hal ini. Kalimatnya nggak begitu panjang, namun terasa ‘jleb’ di
hatiku. Saat aku marah-marah, memang aku jarang memikirkan perasaannya. Lalu
yang kuingat bahwa selama ini suamiku sama sekali nggak pernah marah padaku,
lebih-lebih bersikap kasar. Betapa dia sabar terhadapku meskipun aku sering
emosian, menyebalkan, cerewet, dan ceroboh.
(Selanjutnya, dia bercerita sekilas
tentang sikap Bunda Khadijah pada Nabi Muhammad. Tentang sisi inspiratif
seorang istri kepada suaminya).
Aku raih tangan suamiku dan menciumnya,
minta maaf.
Di kemudian hari, aku membaca buku Wonderful
Wife karya Cahyadi Takariawan, tepatnya di halaman 126-127. Di situ Pak Cah
menceritakan tentang seorang suami (mungkin salah satu sahabat beliau).
Berikut aku tuliskan sebagian kutipan
dari buku tersebut.
...
“Satu hal yang membuat saya selalu
bersemangat memulai usaha adalah sikap pengertian istri. Di saat saya jatuh
terpuruk, tidak punya apa-apa sekadar untuk makan harian ditambah masih harus
menanggung banyak utang, ia selalu mengerti dan memahami kondisi saya. Istri
saya tidak pernah menuntut macam-macam kepada saya. Ia sangat sabar menemani
masa-masa kejatuhan saya.”
Karena dukungan dan dorongan sang isri
yang dirasakan sangat besar bagi dirinya maka ia jadikan nama dan foto sang
istri sebagai merk dan logo usaha yang kini mulai menunjukkan hasil yang
semakin menggembirakan. Hal itu ia maksudkan sebagai bentuk apresiasi,
penghormatan, dan rasa terima kasih sang suami atas pengertian istri selama
ini.
“Seandainya istri saya tidak sabar, suka
marah atau uring-uringan di saat saya tidak punya uang, atau banyak menuntut
kepada saya, apalagi membandingkan saya dengan lelaki lain yang lebih sukses
maka pasti kondisi mental saya akan semakin jatuh terpuruk. Jika itu terjadi
maka saya tidak akan punya gairah dan semangat lagi untuk merintis usaha baru.
Mungkin saya akan memilih menjadi pengangguran atau malah menjadi gelandangan
karena depresi,” tambahnya.
...
Cerita di buku tersebut, semakin memberi
inspirasi buatku. Meskipun, ya, memang berbeda konteks. Tapi, yang jelas istri
memang sangat berperan atas kondisi hati dan mental suaminya.
Cuma, masalahnya Adek ini sering khilaf, Bang. Maaf... ❤

0 comments :
Post a Comment