Home » , » Pak Zaki : Senantiasa Sabar Meskipun Aku Sebaliknya

Pak Zaki : Senantiasa Sabar Meskipun Aku Sebaliknya


Pak Zaki : Senantiasa Sabar Meskipun Aku Sebaliknya

Suatu malam, aku berbincang dengan suami. Pillow talk ini, meskipun salah satu aktifitas favoritku, namun moment yang termasuk langka. Sebab apa? Seringnya, aku ketiduran saat ngeloni anakku (jadi tidur lebih awal sekitar jam 8 malam), sementara suamiku masih melakukan aktifitas lain. Kemudian saat aku nglilir (jamnya nggak tentu), suamiku yang udah tidur. Atau, kadang suamiku yang udah tidur duluan, sementara aku masih melakukan hal yang lain. Atau, kami sama-sama kelelahan, jadi tidur masing-masing tanpa pembicaraan apapun sebelum terlelap.
Jadi begitulah, ketika ada kesempatan pillow talk, kami membicarakan hal apapun, ya, hitung-hitung memaksimalkan quality time.
 Saat itu, kami membahas lagi apa yang terjadi di pagi sebelumnya. Ceritanya karena sesuatu hal, aku marah-marah. Aku tanya perasaan dia.

“Sejujurnya, maaf ya (sambil memegang tangan kananku dengan kedua tangannya), ketika Sampean marah-marah, ‘hatiku jatuh’. Maksudnya, ketika melakukan sesuatu, aku jadi nggak semangat. Ke kandang nggak semangat, ke sawah nggak semangat.”

Aku terdiam. Baru kali ini dia mengungkapkan hal ini. Kalimatnya nggak begitu panjang, namun terasa ‘jleb’ di hatiku. Saat aku marah-marah, memang aku jarang memikirkan perasaannya. Lalu yang kuingat bahwa selama ini suamiku sama sekali nggak pernah marah padaku, lebih-lebih bersikap kasar. Betapa dia sabar terhadapku meskipun aku sering emosian, menyebalkan, cerewet, dan ceroboh.
(Selanjutnya, dia bercerita sekilas tentang sikap Bunda Khadijah pada Nabi Muhammad. Tentang sisi inspiratif seorang istri kepada suaminya).
Aku raih tangan suamiku dan menciumnya, minta maaf.

Suami sabar
Pak Zaki bersama istri dan anak, lebaran 2018

 

Di kemudian hari, aku membaca buku Wonderful Wife karya Cahyadi Takariawan, tepatnya di halaman 126-127. Di situ Pak Cah menceritakan tentang seorang suami (mungkin salah satu sahabat beliau).
Berikut aku tuliskan sebagian kutipan dari buku tersebut.

...
“Satu hal yang membuat saya selalu bersemangat memulai usaha adalah sikap pengertian istri. Di saat saya jatuh terpuruk, tidak punya apa-apa sekadar untuk makan harian ditambah masih harus menanggung banyak utang, ia selalu mengerti dan memahami kondisi saya. Istri saya tidak pernah menuntut macam-macam kepada saya. Ia sangat sabar menemani masa-masa kejatuhan saya.”
Karena dukungan dan dorongan sang isri yang dirasakan sangat besar bagi dirinya maka ia jadikan nama dan foto sang istri sebagai merk dan logo usaha yang kini mulai menunjukkan hasil yang semakin menggembirakan. Hal itu ia maksudkan sebagai bentuk apresiasi, penghormatan, dan rasa terima kasih sang suami atas pengertian istri selama ini.
“Seandainya istri saya tidak sabar, suka marah atau uring-uringan di saat saya tidak punya uang, atau banyak menuntut kepada saya, apalagi membandingkan saya dengan lelaki lain yang lebih sukses maka pasti kondisi mental saya akan semakin jatuh terpuruk. Jika itu terjadi maka saya tidak akan punya gairah dan semangat lagi untuk merintis usaha baru. Mungkin saya akan memilih menjadi pengangguran atau malah menjadi gelandangan karena depresi,” tambahnya.
...

Cerita di buku tersebut, semakin memberi inspirasi buatku. Meskipun, ya, memang berbeda konteks. Tapi, yang jelas istri memang sangat berperan atas kondisi hati dan mental suaminya.

Cuma, masalahnya Adek ini sering khilaf, Bang. Maaf... 




0 comments :

Post a Comment